Hotline : 0858 1012 8912
Bahasa: 

News at PT. Abdi Properti Indonesia

PENDAPATAN AKTIF VS PENDAPATAN PASIF

PENDAPATAN AKTIF VS PENDAPATAN PASIF

Posted : 18 October 2015

Oleh : Eric Hermanto – PT. Abdi Properti Indonesia

 

Salam rumah untuk semua,

 

Semangat sobat properti, penting mana sih pendapatan aktif atau pendapatan pasif ? harusnya yang lebih besar, yang mana sih pendapatan aktif atau pendapatan pasif ? Pernahkan anda terpikir akan hal ini ?

 

Nah sebelum menjawab pertanyaan di atas, penting juga sobat properti, kita mengetahui definisi dari pendapatan aktif dan pendapatan pasif ? Pendapatan aktif, sesuai dengan namanya  yakni pendapatan yang didapat dari hasil bekerja kita baik sebagai karyawan ataupun wiraswasta. Kalau pendapatan pasif adalah pendapatan yang didapat dari hasil investasi kita ( dalam hal ini jenis investasi saya batasi di investasi properti ).

 

Menurut definisi dari Robert Kiyosaki ( karena beliau yang mempopulerkan kata-kata pendapatan pasif ), yakni jika pendapatan pasif kita sudah lebih besar darpadai pendapatan aktif kita, maka dapat dikatakan kita sudah kaya. Atau dalam bahasa yang dipermudah, jika pendapatan pasif kita sudah bisa membiayai gaya hidup kita, tanpa sepeserpun dibiayai oleh pendapatan aktif kita, maka boleh dikatakan kita sudah bebas secara finansial. Seru Toh ?

 

Sebelum saya memulai lebih lanjut, saya ingin memulainya dengan sebuah cerita nyata dari klien kami, ya sebut saja Bapak B. Bapak B ini adalah seorang Insinyur Teknik Sipil, saat ini di tahun 2015 berumur 46 tahun. Selama hidupnya, dia bekerja berhubungan dengan bangunan, mulai dari sebagai property management sampai ke kontraktor, sudah dijalani sama beliau. Bapak B ini adalah seorang yang sangat mencintai keluarganya. Suatu hari karena ketiban rejeki, dia beli rumah mewah di PIK ( Pantai Indah Kapuk ) senilai 4 Milyar rupiah di tahun 2012. Kemudian suatu hari di tahun 2015, beliau bertemu dengan saya, beliau berkata, “Pak Eric, penghasilan saya Rp. 40 juta per bulan, tapi setiap bulan yang terjadi adalah minus” Nah lho, apa yang salah nih ?

 

Kemudian saya cek aset dia ada 4 kios yang tersewa hanya satu kios, lalu ada satu apartemen, sempat tersewa 6 bulan, sekarang lagi kosong sudah 3 bulan cari penyewa masih belum dapat. Artinya bapak B ini tidak sadar akan kondisi dia. Setelah penghasilan tiap bulan minus, baru menyadari dan berusaha mencari solusinya. Mari kita analisa apa yang terjadi dengan bapak B.

 

Pada saat dia memutuskan membeli rumah di PIK, secara otomatis pengeluaran bulanan dia juga akan meningkat, tapi bapak B begitu mencintai keluarganya, lalu dia pun mulai menghitung lagi dengan pendapatan aktif, pendapatan per bulannya, dia pun meyakinkan keluarganya masih bisalah. Lingkungan rumah di PIK adalah lingkungan rumah mewah, secara otomatis gaya hidup bapak B dan keluarganya juga meningkat. Contoh sederhana : sekolah anak-anak pasti pindah ke yang lebih mahal, pola makan juga berubah menjadi lebih mahal, tambah lagi sopir pribadi, pola belanja istri juga pastinya akan berubah dan lain-lain sebagainya. Nah kesalahan telak dari si bapak B adalah ketika dia memutuskan untuk meng-upgrade gaya hidupnya , dan dia membiayainya dari pendapatan aktif beliau. ( Lihat artikel ‘rumahku istanaku’ )

 

Lalu baiknya bagaimana dong ? solusinya apa ?

 

Nah berikut adalah solusi dari penulis dan penulis juga sudah mempraktekkannya juga. Semoga bisa membantu memberikan pencerahan kepada sobat properti. J

 

Simulasi di bawah ini mungkin tidak sama bagi setiap orang, dan disesuaikan saja dengan kapasitas masing-masing, tapi tentunya yang sama adalah kedisiplinan.

 

Target penulis adalah beli satu properti setiap tahun. Mantap kan ?

Penulis memulai investasi properti di tahun 2012 saat berusia 32 tahun.

 

Tahun

Properti

Pembelian

Sewa

Keterangan

2012

1

KPR

7 juta / bln

 

2013

2

KPR

8 juta / bln

 

2014

3

KPR

9 juta / bln

 

2015

4

KPR

10 juta / bln

 

2016

5

KPR

11 juta / bln

Jual Properti 1 dan 2 lunasi properti ke 3

2017

6

KPR

12 juta / bln

 

2018

7

KPR

13 juta / bln

 

2019

8

KPR

14 juta / bln

Jual Properti 4 dan 5 lunasi properti ke 6

2020

9

KPR

15 juta / bln

 

2021

10

KPR

16 juta / bln

 

2022

11

KPR

17 juta / bln

Jual Properti 7 dan 8 lunasi properti ke 9

2023

12

KPR

18 juta / bln

 

2024

13

KPR

19 juta / bln

 

2025

14

KPR

20 juta / bln

Jual properti 10 dan 11 lunasi properti ke 12

2026

15

KPR

21 juta / bln

Dan seterusnya

 

Pada tahun ke 5 atau pada tahun 2016, saya mendapat pendapatan pasif berupa pendapatan sewa sebesar Rp. 11 juta per bulan. Mungkin bagi sebagian anda, ah tidak menarik, jumlah uangnya kecil tapi coba bayangkan tanpa saya bekerja, properti saya bekerja keras untuk saya dan memberikan pendapatan pasif 11 juta per bulan, belum lagi dihitung pendapatan dari capital gain properti.

 

Mungkin masih ada beberapa sobat properti merasa masih belum terlalu menarik. Ok ok, coba ya kita teruskan kemudian jika saya teruskan skemanya sampai tahun ke 14 atau tahun 2026, sekarang usia saya sudah sudah 46 tahun, kira-kira pendapatan pasif saya berapa sih ? Sekarang saya punya 4 buah properti yang memberikan pendapatan pasif sewa sebesar Rp. 20 juta per bulan……… untuk 1 properti. Tapi saya punya empattttttt properti jadi 4 x 20 juta per bulan = 80 juta per bulan. Mantap kan sobat properti, di usia saya yang 46 tahun, saya memiliki pendapatan pasif 80 juta per bulan. Tinggal kipas-kipas deh di usia 46 tahun.

 

Selamat berinvestasi properti cerdas.